- Senin, September 14, 2009

perahu kertas

PART 1: Lingkaran Suci
Amsterdam, Juni 1999…
Tidak ada alasan untuk meninggalkan Amsterdam pada musim panas. Inilah masa terbaik
untuk bersepeda di sekitar Leidseplein dan Dam Square sambil menikmati sinar matahari
yang merupakan surga tahunan bagi warga kota.

Ia masih ingin duduk di pinggir pantai
Blomendahl berbekal kanvas dan alat lukis, atau menikmati koffee verkeerd di salah satu
kafe di 9 Straatjes dari pagi hingga sore bersama buku sketsanya. Sambil mengosongkan
baris terakhir bukunya dari hambalan yang bergantung di samping tempat tidur,
pertanyaan yang sama seminggu terakhir ini berulang dalam kepalanya: umurku baru
jalan delapan belas, tapi kenapa aku merasa terlalu lelah untuk semua ini?
Pintu di balik punggungnya berderit pelan.
“Nee, Keenan. Jangan bebani kopermu dengan buku. Biar Oma yang kirim semua
bukumu ke Jakarta.”
Keenan tersenyum tipis, urung membereskan buku-buku tadi. Hatinya terusik. Oma
mengatakan itu seolah-olah ia tak akan pernah kembali ke rumah ini.
Keenan tahu saat ini akan hadir tak terelakkan. Hanya keajaiban yang bisa
membatalkannya kembali ke Indonesia. Bertahun-tahun, Keenan berharap dan berdoa
keajaiban itu akan datang. Keajaiban tak datang-datang. Hanya sesekali telepon dari
Mama yang memuji sketsa-sketsa yang ia kirim, tanpa ucapan tambahan yang
menyiratkan kalau ia bisa terus tinggal di Amsterdam, menemani Oma yang berjuang
agar tidak digusur ke panti jompo karena dianggap terlalu tua untuk hidup sendiri,
melukis di salah satu bangku di Vondelpark, tumbuh besar menjadi seniman seperti
mereka yang ia kagumi dan banyak berseliweran di kota ini.

download ebook lengkap, klik di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar